9 Desember 2010 11:48
Telpon masuk dari nomor yang tidak dikenal
K: “Halo ini dengan ainin?”
A:” Ya bu ini dengan ainin”
K:” Ini Siapa coba?”
A:*sambil mengingat-ingat jenis suara diseberang telpon* “ Ini dengan bu lies kedutaan?”
K: “Iya benar, ini dengan bu lies”
K: “Mau menanyakan, beasiswa nya mau diambil atau mengundurkan diri”
A:*masih kaget* “ diambil bu”
Itulah sepenggal dialog via telpon yang saya terima tadi pagi. Alhamdulillah kabar baik yang ditunggu-tunggu datang juga. Untuk penempatan universitasnya antara bulan januari-februari.
Mencoba share pengalaman, untuk syarat-syarat dsb bisa dilihat di http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_rs.html Beasiswa monbukagakusho jenisnya ada 2, G to G (seleksi di kedutaan besar), dan U to U (pengalaman yang mendapat U to U ini bisa dilihat http://danangap7.multiply.com/journal/item/81/A_Road_to_Dreams_Pedoman_Melanjutkan_Studi_S2_ke_Jepang_Bagian_2.
Saya mencoba melamar beasiswa ini 2 kali tahun 2009 dan tahun 2010(sekarang). Tahun 2009 saat status menjadi mahasiswa tingkat akhir saya mencoba apply beasiswa ini. Apakah bisa sedang menyusun skripsi kita melamar beasiswa ini? Jawabannya bisa, yang penting saat keberangkatan april tahun berikutnya kita sudah lulus, ini saya tanyakan langsung kepada pihak kedutaan. Perkara Ijazah S1, kita bisa memakai surat rencana lulus ditandatangani ketua jurusan. Beruntung bagi yang mendapat dukungan dengan dibuatkan oleh pihak kampus, tapi ada juga yang tidak mau repot. Jangan berhenti di tengah jalan, kita inisiatif buat surat rencana lulus dalam bahasa inggris, pihak kampus hanya tahu beres tinggal tanda tangan. Tahun 2009 saya apply untuk keberangkatan april 2010 tapi terhenti sampai wawancara atau sampai tahap lulus dokumen. Walaupun saya sudah tahu tidak akan lolos saat itu melihat ujian wawancara saya gagal total, tapi tetap saja ketika menerima kenyataan itu ada rasa sedih, bisa dilihat tulisan saya di http://shofiawati.blog.friendster.com/2009/07/ Saya baru sadar ketika dapat pengumuman tidak lolos 31 juli 2009 beberapa hari kemudian saya jatuh sakit, sebenarnya karena pola hidup saya terbalik selama seminggu yaitu malam saya tidak tidur(baca tidak bisa tidur) saya alihkan rasa sedih saya untuk baca buku tapi terkadang teringat kembali tentang penolakan itu, jam 8 pagi baru tidur dan terbangun saat dzuhur terus selama seminggu, akhirnya saat wisuda bulan agustus saya hadiri dengan kondisi badan yang tidak sehat.
Karena tahu rasanya ditolak beasiswa itu, saat itu saya berazzam dan meluruskan niat akan memperbaiki, meneliti apa yang kurang tempo hari sampai tidak lulus. Setelah ujian JLPT bulan Desember saya fokus mencari ide untuk penelitian. Bulan desember- Mei Bolak-balik Cirebon bandung untuk mencari referensi penelitian, Berdiskusi dengan dosen saya Pak Dedi Suryadi http://japan05.multiply.com/ mengenai tema penelitian yang baik (terima kasih ya pak atas bimbingannya, semoga Allah selalu memudahkan urusan Bapak dan keluarga). Saya buat 2 buah Proposal penelitian yang satu ditolak oleh native speaker orang jepang di kampus, yang satu di Acc sementara. Baru judul nya saja yang di Acc, isi penelitian masih sangat kurang. Des-Feb saya fokus mencari referensi. Februari mencoba menuangkan ide dalam bentuk tulisan versi jepang dan Indonesia. Maret memperbaiki proposal penelitian sambil mendengarkan masukan-masukan. Setelah topic penelitian beres karena masih ada waktu beberapa minggu saya mencari calon profesor yang sesuai dengan bidang penelitian saya. Ini tidak harus ada, boleh ketika apply kita sama sekali belum mendapat profesor, nanti setelah lolos primary screening kita disediakan waktu untuk mencari calon profesor kita. Banyak yang lolos primary screening belum mendapat profesor ketika mendaftar. Berhubung saya pernah gagal apply kemarin, jadi saya maksimalkan ikhtiar saya untuk mencari profesor.
Cara Mencari Profesor
Ada yang bilang, cara mencari profesor bisa melalui kenalan atau kakak tingkat kita yang sedang menuntut di Jepang. Tapi saya pernah minta tolong untuk dikenalkan, berhubung kakak tingkat saya status disana sebagai mahasiswa, power untuk meloby nya kurang berbeda kalau yang kedudukannya sama-sama dosen tidak sebagai mahasiswa lagi. Akhirnya saya memutuskan mencari sendiri, kemungkinan untuk direspon sebenarnya kecil karena saya masih tahap apply beasiswa, tapi tidak salahnya dicoba.
Saya cari universitas mana saja yang ada jurusan bahasa jepang, lalu profesor pembimbing yang satu bidang dengan topic penelitian saya. Tidak semua universitas mencantumkan alamat email profesor dengan alasan kode etik, tapi banyak juga yang mencantumkan alamat emailnya. Saya kirimkan email yang isinya kurang lebih pengenalan diri, topic penelitian, prestasi, harapan untuk diterima di lab beliau. Respon yang didapat bermacam-macam Ada yang tidak menjawab, ada yang tidak bisa membimbing karena ada peraturan baru univ, karena sudah pensiun, atau akan pergi ke luar dalam waktu lama. Entah kenapa saat tidak ada yang memberi respon positif terhadap email saya, terakhir saya iseng mencoba membuka universita Hiroshima, universitas yang dulu saat di Nara pernah saya bilang ke teman saya saat pulang latihan kendo malam hari bahwa saya ingin masuk ke sana. Mengapa universitas Hiroshima tidak saya cari di awal, saya pernah membuka site tersebut dan sulit untuk menemukan site khusus untuk jurusan bahasa jepang, karena tidak teliti jadi saya lewat.
Alhamdulilah ada calon profesor pembimbing disana yang bidangnya klop dengan saya. Saya email beliau, beliau langsung membalas email saya dan ternyata topic penelitian saya berhubungan dengan topic penelitian yang dulu beliau teliti dengan mahasiswanya. Karena beliau menawarkan bantuan, saya meminta bantuan untuk dibuatkan rekomendasi dari beliau untuk melengkapi syarat aplikasi, saya minta asli tanda tangan beliau yang cap merah itu lalu saya scan.
-Bersambung-